Kalau kau mengira diriku bodoh, itu betul. Ya, kau tahu, aku memang bodoh. Ya, anak mana yang gak bodoh bila setiap harinya selalu mengeluarkan janji-janji ajah. Dan tentunya aku terkadang bingung bagaimana mengatasi semua ini, walau akhirnya terkadang juga aku merasa lega ketika janji itu sudah lewat tenggang waktunya, tak tahu entah itu aku bisa menepati janji atau tidak, yang jelas aku merasa lega ketika selesai. Ya, lega, kau tahu kan, lega seperti orang yang baru melahirkan.
Ehm, ngomong-ngomong melahirkan. Aku jadi ingat janjiku sama pacar, kalau aku akan menikah sama dia. Lucu sekali aku mengatakannya, seharusnya aku mengatakan belakang-belakangnya pada dia, aku menikah sama dia kalau memang aku harus ditakdirkan menikah sama dia. Asal tahu saja, aku sama sekali gak mencintainya. Ya meski kadang aku merasa aku ingin berada didekatnya, kau tahu kan, yang namanya orang pacaran pasti ingin berada di dekatnya, nah perasaan itu kadang bersemayam juga dalam diriku. Lalu kalau aku merasakan perasaan itu kenapa aku mengatakan aku tidak mencintainya? Ehm ya, perasaan setiap orang berubah-ubah bukan, aku juga seperti itu. Tapi yang paling dominan adalah perasaan tidak mencintainya, kau tahu? Ya seperti perasaan ketika dia berada disampingku lalu minta cium, aku selalu menghindar. Gak selalu mungkin, terkadang dia memegang kepala dan tubuhku sampai aku gak bisa bergerak, dan diciumnya. Ugh.... aku ingin muntah sebenarnya.
Oke-oke, kenapa harus bercerita tentang ciuman. Aku hanya bingung bagaimana aku harus menghentikan mulutku untuk tidak mengeluarkan janji lagi. Aku gak mau dikatakan si mulut berjanji, ya ketika orang melihatku ditengah jalan lalu dia memanggilku, hei itu kan dia si-mulut-berjanji yang suka mengeluarkan janji-janji. OH NO!!!!
